Seperti Gerimis Merah di Auschwitz

Seperti Gerimis Merah di Auschwitz

  • Triyanto Triwikromo
Publisher:Kepustakaan Populer GramediaISBN 13: 9786231343741ISBN 10: 623134374X

Paperback & Hardcover deals ―

Amazon IndiaGOFlipkart GOSnapdealGOSapnaOnlineGOJain Book AgencyGOBooks Wagon₹1,358Book ChorGOCrosswordGODC BooksGO

e-book & Audiobook deals ―

Amazon India GOGoogle Play Books ₹7.5Audible GO

* Price may vary from time to time.

* GO = We're not able to fetch the price (please check manually visiting the website).

Know about the book -

Seperti Gerimis Merah di Auschwitz is written by Triyanto Triwikromo and published by Kepustakaan Populer Gramedia. It's available with International Standard Book Number or ISBN identification 623134374X (ISBN 10) and 9786231343741 (ISBN 13).

Rutha hidup tertolak. Di rumah, dia terus berhadapan dengan ibu tiri yang tidak menyukainya, ayah yang tidak membela. Di luar rumah, dia hidup dalam pelarian dari kejaran tentara Jerman. Rutha keturunan Yahudi dan harus berhadapan dengan bengis dan tragisnya peperangan. Rutha mengisahkan apa yang terjadi di Auschwitz, kota yang olej Hitler diubah sebagai konsentrasi pembantaian. Tempat menggantung, membunuh, membakar, dan menewaskan kurang lebih 1 juta jiwa. Seperti Gerimis Merah di Auschwitz juga menceritakan dengan getir bagaimana para perempuan Berlin diperkosa Tentara Merah; bagaimana Hitler, Eva Braun, dan orang-orang Jerman lain memilih bunu diri; serta bagaimana sepanjang waktu upaya menghapus trauma peperangan dilakukan. Melalui riset mendalam di Polandia, Italia, dan Jerman, Triyanto Triwikromo, pemeroleh hibah penelitian internasional untuk penulisan novel dari Literarisches Colloquium Berlin dan Robert Bosch Stiftung (Jerman) menggabungkan peristiwa sejarah, kisah liris-realis-magis, dan dongeng di dunia orang hidup dan mati ke dalam cerita cinta berapi-api Rutha dan Bimo. Rutha adalah sosok penting perfilman Jerman, sedangkan Bimo merupakan pemusik Indonesia yang dituduh oleh Rezim Soeharto secara semena-mena sebagai komunis. Di Berlin, keduanya merasa memiliki tanah air yang sama, bernama perlawanan dan pemberontakan.